Disfungsi Seksual Pada Wanita

By | Maret 9, 2017

Bukan hanya pria yang memiliki kencenderungan gangguan pada gairah seksualnya, Namun ternyata wanita pun bisa mengalami  hal tersebut. Banyak hal yang menyebabkan penurunan gairan seksual pada wanita. Hal tersebut dapat menjadikan ketidakpuasan antar pasangan, sehingga dapat memicu timbulnya konflik dan kerenggangan hubungan. Berikut ini ulasan mengenai gangguan seksual yang terjadi pada wanita.

Couple holding stop sign in bed

Untuk mengeksplorasi masalah yang mendasari terjadinya disfungsi seksual pada wanita, perlu ditinjau masing-masing dari sudut psikologis dan medis yang dapat mempengaruhi. Diantaranya adalah:

Faktor Psikologis :

  • Konflik intrapersonal meliputi:

Keyakinan yang bersifat tabu, merasa terasing, konflik identitas seksual, rasa bersalah (misalnya pada janda dengan pasangan baru.

  • Faktor sejarah meliputi:

Pengalaman dilecehkan (seksual, verbal, fisik), perkosaan, belum pernah mendapat pengalaman seksual.

  • Konflik interpersonal meliputi:

Konflik hubungan, perselingkuhan, baru saja mengalami pelecehan secara fisik, verbal atau seksual, libido seksual, perbedaan keinginan dengan pasangan, kurangnya komunikasi seksual.

  • Faktor Depresi dalam hidup / Stress meliputi:

Kondisi keuangan, keluarga atau masalah pekerjaan, penyakit atau kematian anggota keluarga, depresi.

Faktor Medis :

  • Faktor fisiologis meliputi:

Menjelang masa menopause, terjadi perubahan pada organ-organ yang terlibat dalam penerimaan stimulasi seksual.

  • Kondisi kulit meliputi:

Penurunan aktivitas kelenjar keringat dan kelenjar minyak, penurunan sensasi raba.

  • Kondisi payudara meliputi:

Penurunan lemak, kurang optimalnya pembengkakan payudara dan ereksi puting payudara sebagai respon terhadap stimulasi seksual.

  • Vagina

Vagina yang memendek dan yang kehilangan elastisitasnya. Sekresi fisiologis (lubrikasi) berkurang. Peningkatan pH vagina dari 3,5 menjadi 4,5 hingga > 5, penipisan lapisan luar (epitel) dinding vagina.

  • Organ reproduksi bagian dalam

Kandung telur (ovarium) dan saluran telur (tuba faloppi) mengecil, folikel ovarium tidak tumbuh dan berkembang, terbentuk jaringan parut/skar pada ovarium, berat rahim menurun 30-50%, leher rahim mengecil, dan penurunan produksi lendir.

  • Kandung kemih

Segitiga uretra dan kandung kemih mengecil.

Patologis (penyakit) :

Selain faktor fisiologis, disfungsi seksual juga dapat terjadi karena faktor patologis:

  • Peradangan pada vagina
  • Peradangan kandung kemih
  • Endometriosis (biasa ditandai dengan nyeri haid hebat)
  • Hipotiroid (kadar hormone tiroid rendah)
  • Diabetes mellitus (DM)
  • Multiple sclerosis
  • Muscular dystrophy
  • Tindakan pembedahan yang menimbulkan keluhan nyeri saat berhubungan seksual: pengangkatan rahim, pengangkatan payudara, luka sayatan saat persalinan.
  • Kelainan lain pada organ seksual (massa/tumor, infeksi, atrofi, jaringan parut, dsb).

Terdapat juga obat-obatan tertentu yang dalam dosis tertentu dapat mengakibatkan disfungsi seksual, yaitu:

  • Kontrasepsi oral
  • Antihipertensi
  • Antidepressant
  • Obat penenang

Selain penjabaran faktor-faktor di atas, masih ada beberapa faktor yang mampu mengakibatkan disfungsi ereksi, seperti halnya mengonsumsi alkohol dan rokok yang juga dapat menyebabkan gangguan pada fungsi seksual normal.

Namun disamping penjabaran faktor-faktor diatas, masih diperlukan proses diagnosa yang memerlukan peran dokter untuk memperoleh informasi secara mendetil mengenai gangguan-gangguan yang dialami, serta guna mengidentifikasi kondisi medis atau ginekologis untuk mecari informasi faktor yang menyebabkan disfungsi ereksi pada tubuh dan tidak ketinggalan untuk menggali faktor psikososial. Untuk menentukan terapi yang sesuai, perlu diketahui terlebih dahulu masalah yang mendasari terjadinya disfungsi seksual tersebut.

fahmyramdani-237

Beberapa wanita menganggap disfungsi seksual adalah hilangnya ketertarikan melakukan hubungan seksual (libido rendah) dan ketidakmampuan mencapai orgasme. Beberapa merasa tidak puas karena merasa pasangannya tidak memahami keinginandan cara melakukan stimulasi.  Namun ada yang memerlukan terapi khusus karena alasan medis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *